
A. Dasar Hukum, Letak, dan Luas
Taman Nasional Kepulauan Wakatobi merupakan kawasan konservasi perairan laut (marine conservation area). Kawasan Kepulauan Wakatobi dan perairan laut di sekitarnya seluas 1.390.000 ha ditunjuk sebagai taman nasional pada tanggal 30 Juli 1996 berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 393/Kpts-VI/1996. Nama Wakatobi diambil dari singkatan nama pulau-pulau besar yang menyusun kepulauan ini, yakni Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko, nama lain dari gugusan pulau-pulau tersebut adalah Kepulauan Tukang Besi.
Usulan Taman Nasional Kepulauan Wakatobi bermula dari hasil survey penilaian potensi sumber daya alam laut yang dilaksanakan oleh Tim Direktorat Pelestarian Alam. Direktorat Jenderal PHPA Departemen Kehutanan bekerjasama dengan WWF (World Wide Fund for Nature) pada bulan September 1989. Hasil survey tersebut ditindaklanjuti oleh Sub Balai KSDA Sultra dan Kanwil Dep. Kehutanan Sulawesi Tenggara dengan dukungan penuh Pemerintah Daerah, dengan diterbitkannya Rekomendasi Bupati KDH Tk. II Buton No. 522.51/3226 tanggal 3 Oktober 1993 dan Rekomendasi Gubernur KDH Tk. 1 Sulawesi Tenggara No. 522.51/2548 tanggal 7 Maret 1994. Berdasarkan usulan atau rekomendasi pemerintah daerah tersebut. Menteri Kehutanan menyetujui dan menunjuk kawasan perairan laut Kep. Wakatobi seluas 306.680 ha sebagai taman wisata alam laut dengan SK Nomor 462/Kpts-II/1995 tanggal 4 September 1995, dan akhirnya karena pertimbangan dari aspek konservasi serta perkembangan keadaan maka status kawasan diubah menjadi taman nasional.
Latar belakang penunjukannya sebagai kawasan konservasi adalah karena wilayah perairan laut Kepulauan Tukang Besi/Wakatobi memiliki potensi sumber daya alam laut yang sangat tinggi, baik jenis dan keunikannya. serta panorama bawah laut yang menakjubkan. Pertimbangan lainnya adalah karena Sulawesi Tenggara belum memiliki kawasan konservasi perairan laut yang telah ditunjuk. Tidak sampai berselang satu tahun dari saat penunjukannya. TN Kep. Wakatobi telah ditetapkan sebagai Unit Taman Nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No.185 / Kpts-II / 1997 tanggal 31 Maret 1997 (tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Taman Nasional dan Unit Taman Nasional). Hal ini menunjukkan perhatian yang besar dari Pemerintah kepada kawasan konservasi ini.
Secara geografis TN Kep. Wakatobi terletak di antara 5°12 - 6°10' LS dan 123°20 -124°39 BT secara administratif pemerintahan termasuk dalam wilayah 4 kecamatan yakni Wangi Wangi (dengan ibukota kecamatan di Wanci), Kaledupa (beribukota di Ambeua), Tomia (Waha), dan Binongko (beribukota di Rukuwa) Kabupaten Dati II Buton. Sedangkan secara administratif kehutanan masuk dalam wilayah kerja RPH Lasalimu. BKPH Buton Timur, KPH Buton. Sesuai dengan geografisnya di sebelah Utara dibatasi oleh Laut Banda dan P. Buton di sebelah Timur dibatasi oleh Laut Banda. di sebelah Selatan dibatasi oleh Laut Flores, dan di sebelah Barat dibatasi oleh P. Buton dan Laut Flores.
B Potensi
Bentuk topografi daerah Kep. Tukang Besi umumnya datar dan di sekitarnya terdapat beberapa mikro attol seperti Karang Kapota, Karang Kaledupa, dan Karang Tomia. Konfigurasi terumbu karang pada umumnya datar kadang-kadang muncul di permukaan dengan beberapa daerah mempunyai tubir-tubir karang yang tajam. Kepulauan Tukangbesi terdiri dari 4 pulau besar (Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko), dan pulau-pulau kecil antara lain P. Tokobao, P. Lintea Utara, P. Lintea Selatan, P. Kampenaune, dan P. Hoga serta P. Tolandono.
Perairan lautnya secara umum mempunyai konfigurasi perairan dari mulai datar kemudian melandai ke arah laut, dan beberapa daerah perairan bertubir curam. Kedalaman airnya bervariasi, dengan bagian terdalam terletak di sebelah Barat dan Timur P. Kaledupa (sampai 1.044 m). Dasar perairan bervariasi antara berpasir dan berkarang.
Iklim berdasarkan pembagian iklim Schmidt-Fergusson termasuk tipe C, dengan curah hujan tahunan bervariasi antara 1.050-2.200 mm. Bulan-bulan kering jatuh pada bulan Juli hingga Nopember. Suhu harian berkisar antara 19° -34° C.
TN Kepulauan Wakatobi memiliki potensi terumbu karang serta berbagai jenis biota laut seperti kima, lola, ikan, penyu, serta jenis-jenis lainnya.
a.
Terumbu karang. Beberapa daerah terumbu karang yang ada antara lain Karang Sempora, K. Kapota, K Watulopa, K. Sawa Olo-Olo, K. Tokobau, dan Karang Waelale. Jenis-jenis karang yang ditemukan antara lain Acrophora spp, Dendrophyllia spp., Favia abdita, Echinopora horrida, Favites spp, Heliofungia actiniformis, Holothuria edulis, Lobophylla spp., Montastrea spp., Mycedium spp., Millepora spp, Nepthea spp., Oulophylla crispa, Oxypora spp., Pavona clavus, P decussata, Platygira lamellina, P. pini, Porites spp., Porithes spp., Spirobranchus giganteus, Symphyllia spp, Turbinaria frondens, Xenia spp, dan lain-lain.
Karang lunak. Jenis soft corals yang terlihat antara lain Sarcophyton throcheliophorum, Sinularia spp.
Ikan. Jenis ikan yang terlihat antara lain Abudefduf leucogaster, A. saxatilis, Acanthurus achilles, A. aliosa, A. mata, Amphiprion tricinctus, Chaetodon specu!lum, Chelinus undulatus, Chelmon rostratus, Heniochus acuminatus, H. permutatus, Macolor macularis (snapper), Napoleon wrasse, Paramia quinquelineata, Scarus qibbus, S. taeniurus, dan masih banyak lagi.
Bivalvia yang terlihat adalah Tridacna spp.
Crinoidea yang terlihat adalah Comanthina schlegeli, Lily laut.
Ordo Echinodea yang terlihat adalah Acanthaser planci, Diadema setosum, Echinotrix spp., Holothuria edulis, Parathicopus californicus, Stichopus variegatus.
Spons yang terlihat adalah Tube sponges dan Cube sponges, Phyllospongia foliascens.
Rumput laut. Jenis seagrass yang terlihat antara lain Thallisia spp., T. crocea, dan Thalasodendron spp.
Terumbu karang dan ikan hias yang berenang di sekitarnya merupakan atraksi yang menarik untuk dinikmati. Daerah wisata yang direkomendasikan adalah di Pulau Hoga dan sekitarnya, dengan pasir putih dan terumbu karang yang indah. Pengunjung dapat melakukan kegiatan berjemur (sunbathing), snorkling/skin diving, berenang atau menyelam (diving). Di Pulau Hoga telah dibangun fasilitas berupa, wisma tamu dengan arsitektur rumah adat Buton yang dibangun Pemerintah Daerah, serta beberapa pondok wisata.
C. Cara Pencapaian
Untuk mencapai Pulau Hoga dapat ditempuh lewat perjalanan laut dengan beberapa alternatif, yaitu:
Kendari ke Pulau Hoga via P. Wangi-Wangi (Wanci), dengan kapal kayu yang berangkat dari pelabuhan Kendari 2 kali seminggu. Waktu tempuh ± 15 jam.
Kendari ke Bau-Bau (Buton) via Raha (Muna) dengan kapal cepat (± 4 jam) dilanjutkan dengan naik kapal ke Wanci dengan kapal kayu (± 3 jam) atau speed boat carteran (± 4 jam langsung ke P. Hoga).
PANTAI TAIPA
ADA beberapa keistimewaan yang dimiliki Pantai Tanjung Taipa. Selain pasir putih dan pemandangan luas Laut Banda yang menawan, di sekitar pantai ini juga sering dijumpai aktivitas Burung Maleo. Burung endemik Sulawesi bertingkah unik ini akan menemani Anda menghabiskan hari di Pantai Tanjung Taipa.
Lokasi Obyek
Pantai Tanjung Taipa terletak di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, Indonesia. Berjarak sekitar 65 kilometer sebelah utara Kota Kendari.
Gambaran Umum
Letak Pantai Tanjung Taipa ini memang relatif lebih jauh dari Kota Kendari dibanding beberapa pantai lainnya. Tapi, Pantai Tanjung Taipa masih menjadi obyek favorit bagi warga Kendari dan sekitarnya.
Pantai ini terbilang indah. Daratan yang landai membentang lalu bertemu dengan gulungan ombak yang jernih. Pasir yang sangat lembut menghampar sedemikian luasnya. Inilah daya
tarik utama pantai yang berada di bibir Tanjung Taipa dan menghadap langsung ke Laut Banda ini.
Di sana, selain rangkaian hiburan musik yang digelar setiap akhir pekan maupun hari-hari libur, Anda juga bisa menjumpai habitat burung Maleo. Ini burung khas Sulawesi. Tubuhnya unik seperti ayam. Maleo juga memiliki perilaku menarik, yaitu menanam telur di dalam pasir.
Ada juga satu tempat menarik yang bisa dikunjungi di sini, yaitu Gua Golo Oti. Dalam bahasa setempat, Tolo ati berarti arus kering. Di dalamnya terdapat makam tokoh bernama Lasamana. Sebagian Warga Tanjung Taipa masih menganggap makam ini sebagai makam keramat..
Akses
Perjalanan ke Pantai Tanjung Taipa dari Kota Kendari hanya memakan waktu 1,5 jam saja. Jalan masuk ke lokasi obyek terletak dekat jalan poros Kendari-Kolaka yang merupakan jalan darat utama menuju Kota Makassar.
Jalan ke arah obyek wisata ini terasa naik turun. Namun tak perlu khawatir, kondisi jalan sudah sangat baik hingga di pintu gerbang. Setelah melalui perjalanan, rasa lelah Anda akan segera terobati oleh keindahan Pantai Tanjung Taipa.
TANJUNG TAIPA

Masih ingatkah kita akan cerita legenda Bidadari yang turn dari kayangan hanya untuk sekedar mandi?. Konon cerita tersebut juga terdapat di kalangan masyarakat Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Karena menurut masyarakat setempat Air terjun Moramo ini merupakan tempat mandinya para bidadari yang turun dari kayangan.
Air terjun terletak di kawasan Hutan Suaka Alam Tanjung Peropa yang mempunyai luas 38.937 Ha. Tepatnya terletak di Kabupaten Konawe Timur atau sekitar 60 km dari kota Kendari, ibukota Propinsi Sulawesi Tenggara. Keindahan berbalut suasana tenteram serta aliran semilir angin yang begitu sejuk merupakan anugerah alam yang amat menakjubkan bagi para wisatawan yang bekunjung. Di kawasan wisata air terjun ini juga terdapat potensi kekayaan batu alam berupa marmer. Diperkirakan, kandungan marmer tersebut secara keseluruhan berkisar 860 milyar meter kubik. Marmer di kawasan ini merupakan salah satu sumber cadangan marmer terbesar di dunia.
Tingkatan yang Unik
Beberapa air terjun di wilayah lain di Indonesia mempunyai kontur alam yang bertingkat, sehingga sering disebut air terjun bertingkat, semisal Air Terjun Beringkat di Propinsi Riau. Hampir serupa seperti air terjun bertingkat itu, Air Terjun Moramo memiliki tujuh tingkatan. Namun, Air Terjun Moramo ini memiliki keunikan yang khas daerah batuan kapur, yang merupakan tempat air mengalir dengan bebas. Dengan batuan kapur yang mengelilinginya para wisatawan tidak perlu takut untuk memanjatnya karena dinding-dindingnya tidak licin untuk dipanjat.
Di samping 7 tingkatan utama tersebut, terdapat juga 60 tingkatan kecil yang sekaligus berfungsi sebagai tempat penampungan air (semacam kolam air). Dari sekian banyak kolam tersebut, ada satu yang sering dimanfaatkan untuk berenang. Airnya yang jernih, sejuk dan nyaman membuat para pengunjung obyek wisata ini terasa belum afdol berkunjung jika tidak masuk dan berenang di kolam tersebut.
Flora dan Fauna
Di kawasan objek wisata Air Terjun Moramo, juga terdapat aneka flora dan tak ketinggalan ragam fauna seperti beraneka burung, kupu-kupu yang berwarna-warni, dan berbagai satwa lainnya. Umumnya, para wisatawan datang ke tempat wisata ini merasa amat puas karena disuguhi tidak hanya pemandangan alam air terjun yang sangat elok dipandang mata, tapi juga sajian eksotisme pepohonan dan suara binatang hutan yang seakan menyambut gembira kedatangan mereka.
Lengkap sudah keindahan karya alam perkasa di obyek wisata Air Terjun Moramo. Panorama alam, suara air terjun, kicauan burung yang bersahutan, berpadu dengan tarian kupu-kupu beraneka warna terbang kian-kemari.
Pemerintah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), mengandalkan Pantai Nambo sebagai obyek wisata andalan di daerah tersebut sebab sangat mudah dijangkau, baik oleh wisatawan lokal maupun wisatawan luar daerah.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Kendari Ashar di Kendari, Senin(20/10), mengatakan bahwa Pemerintah Kota Kendari terus mengupayakan melakukan pembenahan terhadap obyek wisata tersebut .
Ia mengatakan bahwa di lokasi wisata Pantai Nambo saat ini tengah dilakukan perbaikan sarana peristirahatan pengunjung dan penambahan tong sampah, agar wisatawan yang datang dapat menikmati keindahan Pantai Nambo dan lokasi wisata tetap bersih dari kotoran.
Menurutnya, Pantai Nambo selalu dipenuhi dengan wisatawan, baik lokal maupun luar daerah terutama pada hari libur yaitu Sabtu dan Minggu.
Ia juga menuturkan, lokasi Pantai Nambo ini sangat mudah dijangkau sekitar tujuh kilomter dari pusat Kota Kendari, dan udaranya yang sejuk serta lokasinya selalu terjaga kebersihannya.
Selain Pantai Nambo, kata Ashar, Pemerintah Kota Kendari juga terus melakukan pembenahan beberapa obyek wisata lainnya sepeerti air terjun di Kelurahan Tipulu dan Hutan Agrowisata Nanga-Nanga di Kelurahan Nanga-Nanga, sehingga nanti dapat menjadi kawasan wisata andalan Kota Kendari.
Ia mengatakan, walaupun sarana dan prasarana pendukung di lokasi wisata tersebut belum memadai, tetapi keinginan masyarakat untuk bersantai dan menikmati keindahan di tempat obyek wisata tersebut cukup tinggi.
Ashar menambahkan bahwa setiap minggu, jumlah wisatawan yang datang mencapai ribuan orang, sehingga pendapatan asli daerah (PAD)di sektor pariwisata terus bertambah. Penerimaan PAD di sektor pariwisata Kota Kendari saat ini masih didominasi dari pendapatan retribusi Pantai Nambo, sehingga pantai tersebut masih menjadi andalan obyek wisata di daerah ini.
SEKILAS SULAWESI TENGGARA
Sulawesi tenggara terletak antara 3 derajat sampai 6 derajat Lintang Selatan dan 120 - 124.06 derajad Bujur Timur berbatasan dengan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah di sebelah Utara, laut Flores disebelah Selatan, dan dengan laut Banda di bagian Timur serta teluk Bone di bagian Barat. Jumlah penduduk saat ini diperkirakan sekitar 1.594.990 jiwa dengan penduduk asli yang terdiri dari 5 jenis suku yang berbeda yaitu, suku Tolaki, suku Morunene, suku Buton, suku Muna dan suku Bajo.
Sulawesi Tengara dapat dicapai melalui udara dari Jakarta atau Surabaya melalui Ujung Pandang dengan pesawat merpati Airlines dan melalui laut dilayani oleh PELNI, memlalui darat dapat dicapai melalui kota-kota propinsi di Sulawesi. Obyek dan daya tarik wisata Propinsi Sulawesi Tenggara selain seni budaya dan adat istiadat juga bertumpu pada obyek-obyek dan daya tarik wisata alam khususnya wisata bahari.
Menurut Yayasan Wallacea dan Eco Survey dari Inggeris yang bekerja sama dengan LIPI diketahui bahwa di gugusan pulau-pulau Tukang besi ( WAKATOBI) terdapat taman laut yang indah yang kaya dengan biota laut. Taman laut di kawasan tersebut mempunyai rating (nilai) yang tinggi dan merupakan salah satu taman laut terbaik di dunia. Hampir di seluruh wilayah Sulawesi Tenggara mempunyai jenis tarian khusus, namun ada satu tarian yang identik dengan Sulawesi Tenggara yang dinamakan tarian "Lulo" atau "Molulo". Tarian ini pada awalnya merupakan tarian yang sakral dan penuh filosofis, namun dalam perkembangannya Molulo sekarang sudah menjadi tarian pergaulan atau tarian rakyat yang biasanyan dilakukan secara spontan pada setiap acara baik itu acara pesta ataupun acara-acara pesta yang dilaksanakan oleh instansi-instansi atau ogranisasi.
Salah satu atraksi unik di Sulawesi Tenggara terdapat di Muna yaitu atraksi adu kuda jantan yang memperebutkan kuda betina. Atraksi tersebut sangat menarik uantuk ditonton dan sudah dikenal oleh para wisatawan.
KATEGORI
DAFTAR ISI
- Maret (5)
